Minggu, 14 Februari 2016

boneka lucu














menjual berbagai jenis boneka lucu
dengan berbagai karakter kartun dan hewan yang lucu
dengan akses warna yang cerah
mulai dari harga Rp 85.000 sampai dengan Rp 350.000
jika ingin pesan dapat menghubungi
085261386993
54f719d7

Kamis, 11 Februari 2016

matras rasfur full set








matras ini sama dengan matras yang sebelumnya
berbahan dasar rasfur yang sangat lembut dan nyaman untuk digunakan
sehingga kualitas dan mutu sudah sangat terjamin

Artikel - PENGARUH SIKAP PERCAYA DIRI TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 SERUWAY



PENGARUH SIKAP PERCAYA DIRI TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 SERUWAY


Oleh :
Yusaini, S.Pd, M.Pd, Anggi Syahputra, Amriah, Tri Astuti

Prodi Pendidikan Matematika
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Zawiyah Cot Kala langsa


Abstract
The ability of self confidence or self-efficacy is a main concept of great influence on behavior. Where is the self-confidence that individuals known and felt by the individuals themselves, including the individual's belief about himself that include the who, what exactly dandimana himself. In mathematics necessary for a strong confidence in the response to the problems that exist. In this case, the cognitive abilities related to self-confidence is the ability to think critically. Critical thinking skills is the development of the idea and concept of students facing learning activities, students perform activities of thinking about objects that have been granted (subject matter) and student assignments are open eye to the object. Relations and functions is one of the subject matter in mathematics which requires the attitude believe in solving problems. Therefore, in solving these problems required a good critical thinking skills.
Keywords: self-efficacy, critical thinking, relations and functions.


Abstrak
Keyakinan akan kemampuan diri atau self efficacy adalah konsep utama yang besar pengaruhnya terhadap perilaku. Dimana percaya diri atau the self yaitu individu sebagaimana diketahui dan dirasakan oleh individu itu sendiri, termasuk didalamnya adalah kepercayaan individu tentang dirinya sendiri yang mencakup siapa, apa dandimana sebenarnya dirinya berada. Dalam pembelajaran matematika diperlukan adanya rasa percaya diri yang kuat dalam menanggapi persoalan-persoalan yang ada. Dalam hal ini, kemampuan kognitif yang berhubungan dengan rasa percaya diri adalah kemampuan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis ialah perkembangan dalam idea dan konsep siswa menghadapi kegiatan pembelajaran, siswa melakukan kegiatan berpikir tentang obyek yang sudah diberikan (materi pelajaran) dan tugas siswa adalah membuka mata terhadap obyek tersebut. Relasi dan fungsi adalah salah satu materi pelajaran dalam matematika yang memerlukan adanya sikap percaya dalam menyelesaikan permasalahannya. Sebab, dalam menyelesaikan permasalahan tersebut diperlukan kemampuan berpikir kritis yang baik.

Kata kunci : self efficacy, berpikir kritis, relasi dan fungsi.



A.    Pendahuluan
Matematika adalah suatu cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia. Para ahli mengartikan pengertian matematika secara baik secara umum maupun khusus. Hudojo menyatakan bahwa: “matematika merupakan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol itu tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif, sehingga belajar matematika itu merupakan kegiatan mental yang tinggi.” Sedangkan James dalam kamus matematikanya menyatakan bahwa “Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep berhubungan lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis, dan geometri. Matematika dikenal sebagai ilmu deduktif, karena setiap metode yang digunakan dalam mencari kebenaran adalah dengan menggunakan metode deduktif.
Matematika ini sering dijumpai dalam kegiatan belajar mengajar, baik dalam jenjang sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. Namun, setiap jenjang pendidikan berbeda pula mengenai materi matematikanya. Tapi, maksud dari pembelajarannya sangat berhubungan dan berkaitan satu sama lain. Sedangkan, dalam keseluruhan proses pendidikan sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Ada beberapa aspek-aspek yang mempengaruhi hasil belajar seorang anak didik. Salah satu aspek tersebut antara lain adalah aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik. Dari segi aspek kognitif dapat berupa perhatian, ingatan, inteligensi, kreativitas serta gaya kognitif. Adapun jika dilihat dari segi aspek afektif yaitu motivasi dan kebutuhan, minat, konsep diri dan aspirasi, kecemasan serta sikap. Sedangkan, aspek psikomotorik berkaitan dengan psikologi siswa itu sendiri. Namun, dalam hal ini yang sangat mempengaruhi adalah aspek afektik yaitu sikap diri dan aspirasi. Sikap diri ini berupa sikap percaya diri yang muncul dari diri anak didik itu sendiri. Kepercayaan diri sangat diperlukan oleh siswa karena dengan keercayaan diri siswa mampu mengapresiasikan dirinya dan dapat berinteraksi dengan orang lain. Konsep diri atau kepercayaan diri merupakan produk belajar. Proses belajar ini terjadi setiap hari dan umumnya tidak disadari oleh individu. Belajar disini bisa diartikan sebagai perubahan psikologis yang relatif permanen yang terjadi sebagai konsekuensi dari pengalaman. Dalam proses belajar, sikap percaya diri berperan sangat penting khususnya bagi guru dan siswa. Karena, sikap percaya diri menentukan keberhasilan seseorang dalam menghadapi permasalahan yang timbul dalam kehidupan. Sikap percaya diri juga merupakan evaluasi seseorang terhadap diri sendiri, yang menyatakan sikap akan menolak atau bahkan menerima, bahkan lebih jauh dikemukakan bahwa harga diri akan menunjukkan seberapa besar seseorang percaya bahwa dirinya mampu.
Dalam pembelajaran disekolah khususnya pembelajaran matematika, masih terdapat beberapa siswa yang masih kurang percaya diri terhadap kemampuan berpikir kritisnya dalam mempertahankan jawaban dari soal-soal yang telah dijawab. Seseorang yang berpikir kritis akan memiliki karakter khusus yang dapat diidentifikasi dengan melihat bagaimana seseorang menyikapi suatu masalah. Dalam pembelajaran matematika, khususnya pada materi relasi dan fungsi. Siswa masih kurang paham mengenai perbedaan antara relasi dan fungsi. Materi tersbut terdapat variasi soal dan gambaran sehingga siswa harus lebih teliti dalam memahami soal. Tingkat pemahaman siswa yang baik akan mempengaruhi nilai. Nilai tersebut didapat melalui serangkaian proses belajar mengajar. Pengukuran terhadap hasil belajar siswa dapt dilihat melalui kegiatan evaluasi. Sehingga, dalam hal ini siswa akan mendapat nilai baik dan menjawab serangkaian kegiatan evaluasi dengan sempurna jika dapat berpikir kritis secara matematis dengan adanya dorongan sikap percaya diri yang tetap.

B.     Pembahasan
1.      Sikap Percaya Diri
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon (response tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif.[1]
Secara umum, sikap percaya diri adalah penilian seseorang tentang kemampuannya sendiri untuk menjalankan perilaku tertentu atau mencapai tujuan tertentu. Dari  pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya percaya diri adalah perasaan yakin akan kemampuan yang dimiliki, sehingga dengan keyakinan tersebut seseorang dapat menghadapi masalah yang dihadapi dalam proses pencapaian tujuan atau prestasi yang diinginkan. Sikap percaya diri siswa mempengaruhi pilihan aktivitas mereka, tujuan mereka, dan usaha serta persitensi mereka dalam aktivitas-aktivitas kelas. Dengan demikian, sikap percaya diri pun pada akhirnya mempengaruhi pembelajaran dan prestasi mereka.
Sikap percaya diri berwujud dari konsep “Aku”. Konsep “aku” meliputi segala kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-cita, baik yang disadari ataupun tidak disadari individu tentang dirinya. Setiap siswa mempunyai kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-cita akan dirinya, apakah sikap, perasaan, dll-nya itu tepat atau tidak, realitis atau tidak. Seorang yang memiliki kepercayaan lebih akan dirinya, akan mencita-citakan sesuatu yang jauh di atas kemampuannya, sehingga kemungkinan mendapatkan kegagalan besar. Orang yang mempunyai kepercayaan lebih juga akan menilai rendah kepada orang lain. Sebaliknya, orang yang kurang percaya diri, akan banyak diliputi keraguan, ketidakberanian untuk bertindak, serta rasa rendah diri.[2]
Percaya diri adalah sebuah sikap diri yang merasa pantas, nyaman dengan diri sendiri dari penilaian orang lain, serta memiliki keyakinan yang kuat. Maka sifat tidak percaya diri datang apabila pribadi tersebut tidak merasa pantas, nayaman dan tenang dengan dirinya. Menurut Syaifullah, percaya diri merupakan sikap positif yang dimiliki seorang individu yang membiasakan dan memupukkan dirinya untuk  mengembangkan penilaian positid baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, lingkungan serta situasi yang dihadapinya untuk meraih apa yang diinginkan. Pribadi seseorang yang memiliki sikap percaya diri diantaranya memiliki ciri-ciri:
a.       Percaya dengan kemampuan diri sendiri
b.      Mengutamakan usaha sendiri tidak tergantung dengan orang lain
c.       Tidak mudah mengalami rasa putus asa
Pribadi yang percaya diri akan selalu antusias dalam melakukan suatu tindakan memiliki tekad, tekun dan pantang menyerah
d.      Berani menyampaikan pendapat
Berpendapat merupakan suatu hak yang dimiliki oleh setiap orang, tetapi ridak semua orang memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat, rasa takut dan khawatir untuk berbicara merupakan salah satu ciri-ciri sikap tidak percaya dengan kemampuannya. Seorang yang memiliki sikap percaya diri diantaranya adalah berani untuk menyampaikan pendapat yang dimilikinya didepan orang banyak.
e.       Mudah berkomunikasi dan membantu orang lain
Manusia adalah makhluk sosial, akan selalu bersosialisasi dan berinteraksi. Interaksi merupakan suatu hal yang tak dapat dipisahkan oleh manusia, manusia dilahirkan dan hidup tidak dapat dipisahkan satu sama lain, seseorang membutuhkan seseorang lainnya, karena tanpa adanya kerjasama dan bantuan orang lain seorang individu tidak bisa menopang untuk memenuhi kebutuhan.
f.       Tanggungjawab dengan tugas-tugasnya
Pribadi yang percaya diri akan selalu memiliki tanngungjawab pada dirinya sendiri yaitu selalu mengerjaka apa yang menjadi tugas dalam menjalankan suatu tindakan, dikerjakan dengan tekun dan rajin.
g.      Memiliki ciri-ciri untuk meraih prestasi
Sikap percaya diri hanya dimiliki oleh orang yang bersemangat berjuang dan memiliki kemaun keras, berusaha dan merealisasikan mimpi-mimpinya untuk menjadi kenyataan.

Rasa percaya diri akan menghasilkan berbagai perasaan atau emosi dalam mengatisipasi suatu tindakan. Setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang akan berbeda-beda tergantung usia seseorang, hal tersebut dipengaruhi adanya perkembangan setiap individu. Dari pengertian rasa percaya diri diatas maka yang menjadi indikator dalam intrumen percaya diri yaitu: keyakinan pada kemampuan belajar, keyakinan pada keunggulan belajar, keyakinan pada prestasi belajar, keyakinan pada suasana belajar, ketegasan dalam  menyampaikan pendapat, ketegasan dalam pengambilan keputusan, kesediaan menerima perubahan serta menanggung kerugian. Jadi, rasa percaya diri dibangun oleh tiga aspek yaitu keyakinan, ketegasan dan kesediaan dalam mengambil resiko.[3]
Individu dengan rasa percaya diri yang lemah, cenderung mempersepsikan segala sesuatu dari sisi negatif. Ia tidak menyadari bahwa dalam dirinyalah semua negativisme itu berasal. Pola pikir individu yang kurang percaya diri, bercirikan antara lain:
·         Menekankan keharusan-keharusan pada diri sendiri. Ketika gagal, individu tersebut merasa seluruh hidupnya dan masa depannya hancur.
·         Cara berpikir totalitas dan dualisme.
·         Pesimistik yang futuristik: satu saja kegagalan kecil, individu tersebut sudah merasa tidak akan berhasil meraih cita-citanya di masa depan.
·         Tidak kritis dan selektif terhadap self criticism.
·         Labeling: mudah menyalahkan diri sendiri dan memberikan sebutan-sebutan negatif.
·         Sulit menerima pujian ataupun hal-hal positif dari orang lain.
·         Suka mengecilkan arti keberhasilan diri sendiri.

Rasa percaya diri merupakan satu diantara aspek-aspek kepribadian yang penting dalam kehidupan. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa rasa percaya diri sangat penting dalam kehidupan. Jika seseorang ingin memiliki prestasi yang baik maka ia harus memiliki rasa percaya diri yang baik pula, karena dengan percaya diri seseorang akan berjuang untuk mencapai prestasi yang diinginkan.

1.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Rasa Percaya Diri
1)      Faktor Internal
Merupakan faktor yang bersumber dari dirinya sendiri, yaitu berupa pemahaman seseorang terhadap dirinya sendiri yang terdiri dari bagaimana orang tersebut memandang diri dan membuat gambaran tentang dirinya yaitu konsep diri.[4] Adapun karakteristik individu yang memiliki konsep diri yang positif adalah : (a) yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah, (b) merasa setara dengan orang lain, tidak sombong, mencela atau meremehkan selalu, selalu menghargai orang lain, (c) menerima pujian tanpa rasa malu, (d) mampu memperbaiki dan mengubah aspek-aspek kepribadian yang tidak disenangi orang lain.[5]

2)      Faktor Eksternal
Ø  Diri fisik: yang berarti persepsi seseorang terhadap keadaan dirinya secara fisik. Dalam hal ini terlihat persepsi seseorang mengenai kesehatan dirinya, penampilannya secara fisik dan keadaan tubuhnya.
Ø  Diri etik moral: bagian ini merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya dilihat dari standar pertimbangan nilai moral dan etika.
Ø  Diri pribadi: merupakan perasaan atau persepsi seseorang tentang keadaan pribadinya.
Ø  Diri keluarga: menunjukkan perasaan dan harga diri seseorang dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga.
Ø  Diri sosial: pada bagian ini merupakan penilaian individu terhadap interaksi dirinya dengan orang lain maupun lingkungan sekitarnya.

Indikator percaya diri adalah merupakan suatu hasil yang nampak pada diri seseorang. Contohnya apabila seseorang berani melakukan suatu aktivitas dan kelihatannya ia tidak ragu memilih dan membuat apa yang harus dibuatnya. Berikut beberapa indikator kepercayaan diri:
a.       Tampil percaya diri
Bekerja sendiri tanpa supervisi, mengambil keputusan tanpa perlu persetujuan orang lain.
b.      Bertindak indenpenden
Bertindak diluar otoritas formal agar pekerjaan bisa terselesaikan dengan baik, namun hal ini dilakukan demi kebaikan, bukan karena tidak mematuhi prosedur yang belaku.
c.       Menyatakan keyakinan atas kemampuan sendiri
Menggambarkan dirinya sendiri sebagai seorang ahli, seseorang yang mampu mewujudkan sesuatu menjadi kenyataan, seorang penggerak, atau seorang narasumber.
d.      Memilih tantangan atau konflik
Menyukai tugas-tugas yang menantang dan mencari tanggung jawab baru. Bicara terus terang jika tidak sependapat dengan orang lain yang lebih kuat, tetapi mengutarakannya dengan sopan. Menyampaikan pendapat dengan jelas dan percaya diri walaupun dalam situasi konflik.


2.      Kemampuan Berpikir Kritis
Berpikir adalah manipulasi atau mengelola dan mentransformasi informasi dalam memori. Ini sering digunakan untuk membentuk konsep, bernalar dan berpikir secara kritis, membuat keputusan, berpikir kreatif, dan memecahkan masalah. Murid dapat berpikir tentang hal-hal konkret, seperti liburan ke pantai atau apabila mereka sudah usai sekolah menengah, mereke bisa berpikir tentang hal-hal yang abstrak, seperti makna kebebasan atau identitas.[6] Ciri-ciri yang terutama dari berpikir adalah adanya abstraksi. Abstraksi dalam hal ini berarti: anggapan lepasnya kualitas atau relasi dari benda-benda, kejadian-kejadian dan situasi-situasi yang mula-mula dihadapi sebagai kenyataan. Ada beberapa macam cara berpikir:
a.       Berpikir Induktif
Berpikir induktif ialah suatu proses dalam berpikir yang berlangsung dari khusus menuju kepada yang umum. Orang mencari-cari ciri-ciri atau sifat-sifat yang tertentu dari berbagai fenomena, kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan bahwa ciri-ciri/sifat-sfat itu terdapat pada semua jenis fenomena tadi.
b.      Berpikir Deduktif
Berpikir deduktif prosesnya berlangsung dari yang umum menuju ke khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari suatu teori ataupun prinsip ataupun kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah bersifat umum.
c.       Berpikir Analogis
Analogi berarti persamaan atau perbandingan. Berpikir analogis ialah berpikir dengan jalam menyamakan atau memperbandingkan fenomena-fenomena yang pernah dialami. Di dalam cara bepikir ini, orang beranggapan bahwa kebenaran dari fenomena-fenomena yang pernah dialaminya berlaku pula bagi fenomena yang dihadapi sekarang.[7]

Seseorang yang berpikir secara kritis akan dapat menjawab permasalahan-permasalahan yang penting dengan baik. Dia akan berpikir secara jelas dan tepat. Selain itu, dapat menggunakan ide yang abstrak untuk bisa membuat model penyelesaian masalah secara efektif.
Beberapa hal yang menjadi ciri khas dari pemikir kritis itu sendiri adalah:
1)      Mampu membuat simpulan dan solusi yang akurat, jelas, dan relevan terhadap kondisi yang ada.
2)      Berpikir terbuka dengan sistematis dan mempunyai asumsi, implikasi, dan konsekuensi yang logis.
3)      Berkomunikasi secara efektif dalam menyelesaikan suatu masalah yang kompleks
Berpikir kritis merupakan cara untuk membuat pribadi yang terarah, disiplin, terkontrol, dan korektif terhadap diri sendiri. Hal ini tentu saja membutuhkan kemampuan komunikasi efektif dan metode penyelesaian masalah serta komitmen untuk mengubah paradigma egosentris dan sosiosentris kita.
Saat kita mulai untuk berpikir kritis, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan disini, yaitu
1)      Mulailah dengan berpikir apa dan kenapa, lalu carilah arah yang tepat untuk jawaban dari pertanyaan tersebut.
2)      Tujuan pertanyaan akan apa dan kenapa
3)      Informasi yang spesifik untuk menjawab pertanyaan diatas.
4)      Kriteria standar yang ditetapkan untuk memenuhi jawaban atas pertanyaan.
5)      Kejelasan dari solusi permasalahan/pertanyaan.
6)      Konsekuensi yang mungkin terjadi dari pilihan yang kita inginkan.
7)      Mengevaluasi kembali hasil pemikiran kita untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Beberapa kriteria yang dapat kita jadikan standar dalam proses berpikir kritis ini adalah kejelasan (clarity), tingkat akurasi (accuracy), tingkat kepresisian (precision) relevansi (relevance), logika berpikir yang digunakan (logic), keluasan sudut pandang (breadth), kedalaman berpikir (depth), kejujuran (honesty), kelengkapan informasi (information) dan bagaimana implikasi dari solusi yang kita kemukakan (implication).
Kriteria-kriteria di atas tentunya harus menggunakan elemen-elemen penyusun kerangka berpikir suatu gagasan atau ide. Sebuah gagasan/ide harus menjawab beberapa hal sebagai berikut.
1)      Tujuan dari sebuah gagasan/ide
2)      Pertanyaan dari suatu masalah terhadap gagasan/ide
3)      Sudut pandang dari gagasan/ide
4)      Informasi yang muncul dari gagasan/ide
5)      Interpretasi dan kesimpulan yang mungkin muncul.
6)      Konsep pemikiran dari gagasan/ide tersebut
7)      Implikasi dan konsekuensi
8)      Asumsi yang digunakan dalam memunculkan gagasan/ide tersebut

Dasar-dasar ini yang pada peinsipnya perlu dikembangkan untuk melatih kemampuan berpikir kritis kita. Jadi, berpikir kritis adalah bagaimana menyeimbangkan aspek-aspek pemikiran yang ada di atas menjadi sesuatu yang sistemik dan mempunyai dasar atau nilai ilmiah yang kuat. Selain itu, kita juga perlu memperhitungkan aspek alamiah yang terdapat dalam diri manusia karena hasil pemikiran kita tidak lepas dari hal-hal yang kita pikirkan.
Sebagaimana fitrahnya, manusia adalah subjek dalam kehidupan ini. Artinya manusia akan cenderung berpikir untuk dirinya sendiri atau disebut sebagai egosentris. Dalam proses berpikir, egosentris menjadi hal utama yang harus kita hindari. Apalagi bila kita berada dalam sebuah tim yang membutuhkan kerjasama yang baik. Egosentris akan membuat pemikiran kita menjadi tertutup sehingga sulit mendapatkan inovasi-inovasi baru yang dapat hadir. Pada akhirnya, sikap egosentris ini akan membawa manusia ke dalam komunitas individualistis yang tidak peka terhadap lingkungan sekitar. Bukan menjadi solusi, tetapi hanya menjadi penambah masalah.
Semakin sering kita berlatih berpikir kritis secara ilmiah, maka kita akan semakin berkembang menjadi tidak hanya sebagai pemikir kritis yang ulung, namun juga sebagai pemecah masalah yang ada di lingkungan.
Kemampuan berpikir kritis individu berbeda antara satu dengan lainnya sehingga perlu dipupuk sejak dini. Berpikir terjadi dalam setiap aktifitas mental manusia yang untuk berfungsi memformulasikan atau menyelesaikan masalah, membuat keputusan dan mencari alasan. Pemikiran kritis adalah pemikiran reflektif dan produktif, dan melibatkan evaluasi bukti. Banyak soal “Reflect” yang muncul dalam buku ini membutuhkan pemikiran kritis. Berpikir kritis adalah sebuah proses sistematis yang memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengevaluasi keyakinan dan pendapatnya sendiri. Dalam pemecahan masalah, kemampuan berpikir kritis juga diperlukan karena dapat merumuskan, memformulasikan dan menyelesaikan masalah. Seseorang yang berpikir kritis kritis memiliki karakter khusus yang dapat diidentifikasi dengan melihat bagaimana seseorang menyikapi masalah. Berikut ini beberapa cara yang dapat digunakan gutu untuk memasukkan pemikiran kritis dalam proses pengajaran :
·         Jangan hanya tanyakan tentang apa yang terjadi, tetapi tanyakan juga “bagaimana” dan “mengapa”.
·         Kaji dugaan “fakta” untuk mengetahui apakah ada bukti yang mendukungnya.
·         Berdebatlah secara rasional, bukan emosional.
·         Akui bahwa terkadang ada lebih dari satu jawaban atau penjelasan yang baik.
·         Bandingkan berbagai jawaban untuk suatu pertanyaan dan nilailah mana yang benar-benar jawaban terbaik.
·         Evaluasi dan kalau mungkin tanyakan apa yang dikatakan orang lain bukan sekedar menetima begitu saja jawaban sebagai kebenaran.
·         Ajukan pertanyaan dan pikirkan di luar apa yang sudah kita tahu untuk menciptakan ide baru dan informasi baru.[8]

Dalam berpikir kritis, siswa dituntut menggunakan strategi kognitif tertentu yang tepat untuk menguji keandalan gagasan pemecahan masalah dan mengatasi kesalahan atau kekurangan. Sebab, berpikir kritis merupakan perwujudan perilaku berlajar terutama yang bertalian dengan pemecahan masalah.[9]

3.      Hubungan Berpikir Kritis dan Rasa Percaya Diri dalam Pembelajaran Matematika
Pembelajaran matematika di sekolah tidak hanya bertujuan agar siswa memahami materi matematika yang diajarkan. Tujuan-tujuan utama lain misalnya, kemampuan penalaran matematika, komunikasi matematika, koneksi matematika dan lain-lain. Dari salah tujuan utama tersebut berkaitan atau berhubungan dengan berpikir kritis dan sikap percaya diri yaitu kemampuan penalaran matematika. Dalam mempelajari matematika orang harus berpikir agar ia mampu memahami konsep-konsep matematika yang dipelajari serta mampu menggunakan konsep-konsep tersebut dengan tepat. Dalam hal ini, tahapan tersebut akan menjadi sempurna jika seseorang tersebut memiliki rasa percaya diri yang positif. Sehingga, hasil yang diinginkan menjadi memuaskan dan mendapat nilai yang sempurna.
Berpikir kritis dalam matematika perlu diawali dengan adanya  harus mampu mengendalikan dirinya sendiri agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan mengenai pokok masalah yang sedang dievaluasi.





4.      Relasi dan Fungsi
a.      Relasi
Relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah aturan yang memasangan anggota himpunan A ke himpunan B dengan aturan tertentu. Lambang dari relasi yaitu “®”. Ada tiga cara menyatakan sebuah relasi adalah sebagai berikut :
1)      Diagram panah
Langkah-langkah cara menyatakan relasi dengan diagram panah:
o   Membuat dua lingkaran atau ellips untuk meletakkan anggota himpunan A dan himpunan B.
o   x Î A diletakkan pada lingkaran A dan y Î B diletakkan pada lingkaran B.
o   x dan y dihubungkan dengan anak panah.
o   Arah anak panah menunjukkan arah relasi.
o   Anak panah tersebut mewakili aturan relasi.

2)      Himpunan Pasangan Berurutan
Menyatakan relasi dengan himpunan pasangan berurutan dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
o   Kita daftarkan masing-masing anggota himpunan A dan anggota himpunan B.
o   Kita pasangkan kedua anggota himpunan dengan aturan relasi dalam bentuk (x, y) dengan x Î A dan y Î B.

3)      Diagram Cartesius
o   Pada diagram cartesius diperlukan dua salib sumbu yaitu: sumbu mendatar dan sumbu tegak yang berpotongan saling tegak lurus.
o   x Î A diletakkan pada sumbu mendatar.
o   yÎ B diletakkan pada sumbu tegak.
o   Pemasangan x ® y ditandai dengan sebuah noktah yang koordinatnya ditulis sebagai pasangan berurutan (x , y).

b.      Fungsi
Fungsi pemetaan dari himpunan A ke himpunan B adalah relasi yang memasangkan setiap anggota himpunan A dengan tepat satu anggota himpunan B.








C.    Kesimpulan dan Saran
1.      Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh sikap percaya diri siswa terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dalam proses pemahaman konsep materi serta saat siswa tersebut menyelesaikan sebuah persoalan secara langsung dan secara individual.
Selain itu, tidak hanya dalam hal itu melainkan bisa juga dalam hal siswa menyampaikan pendapat siswa. Dalam artian berarti berhubungan dalam keaktifitan siswa dalam proses pembelajaran.

2.      Saran
a.       Guru pada kelas tersebut harus mampu meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam menyelesaikan persoalan pokok bahasan relasi dan fungsi.
b.      Guru harus dapat memberikan penjelasan materi yang memacu akan kemampuan berpikir kritis siswa dalam acuan sikap percaya diri siswa tersebut.

Daftar Pustaka
Purwanto,M. Ngalim. 2008. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja
                        Rosdakarya.
Risnawati. 2013. Keterampilan Belajar Matematika. Yogyakarta : Aswaja
                       Presindo.
Santrock, Joh W. 2008.  Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta: Kencana.
Sujianto, Agus. 2009. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Bumi Aksara.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2007. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.
                      
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung:
                        PT Remaja RosdaKarya.
                            2009. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers.




[1]Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), hal. 123
[2]Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), hal.139-140
[3]Agus Sujianto, Psikologi Kepribadian, (Jakarta : Bumi Aksara, 2009), hal. 160
[4] Risnawati, Keterampilan Belajar Matematika, (Yogyakarta : Aswaja Presindo, 2013), hal. 23
[5]Ibid, hal.19-20
[6]Joh W. Santrock, Psikologi Pendidikan Edisi Kedua,(Jakarta: Kencana, 2008), hal. 357
[7]M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008, hal. 43-48
[8]Ibid, hal. 359
[9]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja RosdaKarya, 2008), hal.120