PENGARUH SIKAP
PERCAYA DIRI TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA KELAS VIII SMP
NEGERI 1 SERUWAY
Oleh
:
Yusaini,
S.Pd, M.Pd, Anggi Syahputra, Amriah, Tri Astuti
Prodi
Pendidikan Matematika
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Zawiyah Cot Kala langsa
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Zawiyah Cot Kala langsa
Abstract
The
ability of self confidence or self-efficacy is a main concept of great
influence on behavior. Where is the self-confidence that individuals known and
felt by the individuals themselves, including the individual's belief about
himself that include the who, what exactly dandimana himself. In mathematics
necessary for a strong confidence in the response to the problems that exist.
In this case, the cognitive abilities related to self-confidence is the ability
to think critically. Critical thinking skills is the development of the idea
and concept of students facing learning activities, students perform activities
of thinking about objects that have been granted (subject matter) and student
assignments are open eye to the object. Relations and functions is one of the
subject matter in mathematics which requires the attitude believe in solving
problems. Therefore, in solving these problems required a good critical
thinking skills.
Keywords:
self-efficacy, critical thinking,
relations and functions.
Abstrak
Keyakinan akan kemampuan diri atau self efficacy adalah konsep utama yang besar pengaruhnya terhadap
perilaku. Dimana percaya diri atau the self yaitu individu sebagaimana diketahui dan dirasakan oleh
individu itu sendiri, termasuk didalamnya adalah kepercayaan individu tentang
dirinya sendiri yang mencakup siapa, apa dandimana sebenarnya dirinya berada.
Dalam pembelajaran matematika diperlukan adanya rasa percaya diri yang kuat
dalam menanggapi persoalan-persoalan yang ada. Dalam hal ini, kemampuan
kognitif yang berhubungan dengan rasa percaya diri adalah kemampuan berpikir
kritis. Kemampuan berpikir kritis ialah perkembangan dalam idea dan konsep siswa
menghadapi kegiatan pembelajaran, siswa melakukan kegiatan berpikir tentang
obyek yang sudah diberikan (materi pelajaran) dan tugas siswa adalah membuka
mata terhadap obyek tersebut. Relasi dan fungsi adalah salah satu materi
pelajaran dalam matematika yang memerlukan adanya sikap percaya dalam
menyelesaikan permasalahannya. Sebab, dalam menyelesaikan permasalahan tersebut
diperlukan kemampuan berpikir kritis yang baik.
Kata kunci : self efficacy, berpikir kritis, relasi dan
fungsi.
A.
Pendahuluan
Matematika
adalah suatu cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi
manusia. Para ahli
mengartikan pengertian matematika secara baik secara umum maupun khusus. Hudojo
menyatakan bahwa: “matematika merupakan ide-ide abstrak yang diberi
simbol-simbol itu tersusun secara hirarkis dan penalarannya deduktif, sehingga
belajar matematika itu merupakan kegiatan mental yang tinggi.” Sedangkan James
dalam kamus matematikanya menyatakan bahwa “Matematika adalah ilmu tentang
logika mengenai bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep berhubungan lainnya
dengan jumlah yang banyak yang terbagi dalam tiga bidang, yaitu aljabar,
analisis, dan geometri. Matematika dikenal sebagai ilmu deduktif, karena setiap
metode yang digunakan dalam mencari kebenaran adalah dengan menggunakan metode
deduktif.
Matematika
ini sering dijumpai dalam kegiatan belajar mengajar, baik dalam jenjang sekolah
dasar sampai dengan perguruan tinggi. Namun, setiap jenjang pendidikan berbeda
pula mengenai materi matematikanya. Tapi, maksud dari pembelajarannya sangat berhubungan
dan berkaitan satu sama lain. Sedangkan, dalam keseluruhan proses pendidikan
sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti
bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada
bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Ada
beberapa aspek-aspek yang mempengaruhi hasil belajar seorang anak didik. Salah
satu aspek tersebut antara lain adalah aspek kognitif, aspek afektif dan aspek
psikomotorik. Dari segi aspek kognitif dapat berupa perhatian, ingatan,
inteligensi, kreativitas serta gaya kognitif. Adapun jika dilihat dari segi
aspek afektif yaitu motivasi dan kebutuhan, minat, konsep diri dan aspirasi,
kecemasan serta sikap. Sedangkan, aspek psikomotorik berkaitan dengan psikologi
siswa itu sendiri. Namun, dalam hal ini yang sangat mempengaruhi adalah aspek
afektik yaitu sikap diri dan aspirasi. Sikap diri ini berupa sikap percaya diri
yang muncul dari diri anak didik itu sendiri. Kepercayaan diri sangat
diperlukan oleh siswa karena dengan keercayaan diri siswa mampu
mengapresiasikan dirinya dan dapat berinteraksi dengan orang lain. Konsep diri
atau kepercayaan diri merupakan produk belajar. Proses belajar ini terjadi
setiap hari dan umumnya tidak disadari oleh individu. Belajar disini bisa
diartikan sebagai perubahan psikologis yang relatif permanen yang terjadi
sebagai konsekuensi dari pengalaman. Dalam proses belajar, sikap percaya diri
berperan sangat penting khususnya bagi guru dan siswa. Karena, sikap percaya
diri menentukan keberhasilan seseorang dalam menghadapi permasalahan yang
timbul dalam kehidupan. Sikap percaya diri juga merupakan evaluasi seseorang
terhadap diri sendiri, yang menyatakan sikap akan menolak atau bahkan menerima,
bahkan lebih jauh dikemukakan bahwa harga diri akan menunjukkan seberapa besar
seseorang percaya bahwa dirinya mampu.
Dalam
pembelajaran disekolah khususnya pembelajaran matematika, masih terdapat
beberapa siswa yang masih kurang percaya diri terhadap kemampuan berpikir
kritisnya dalam mempertahankan jawaban dari soal-soal yang telah dijawab.
Seseorang yang berpikir kritis akan memiliki karakter khusus yang dapat
diidentifikasi dengan melihat bagaimana seseorang menyikapi suatu masalah.
Dalam pembelajaran matematika, khususnya pada materi relasi dan fungsi. Siswa
masih kurang paham mengenai perbedaan antara relasi dan fungsi. Materi tersbut
terdapat variasi soal dan gambaran sehingga siswa harus lebih teliti dalam memahami soal.
Tingkat pemahaman siswa yang baik akan mempengaruhi nilai. Nilai tersebut
didapat melalui serangkaian proses belajar mengajar. Pengukuran terhadap hasil
belajar siswa dapt dilihat melalui kegiatan evaluasi. Sehingga, dalam hal ini
siswa akan mendapat nilai baik dan menjawab serangkaian kegiatan evaluasi
dengan sempurna jika dapat berpikir kritis secara matematis dengan adanya
dorongan sikap percaya diri yang tetap.
B.
Pembahasan
1. Sikap Percaya Diri
Sikap adalah gejala internal
yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon (response tendency) dengan cara yang
relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif
maupun negatif.[1]
Secara umum, sikap percaya diri adalah penilian seseorang
tentang kemampuannya sendiri untuk menjalankan perilaku tertentu atau mencapai
tujuan tertentu. Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya percaya diri adalah perasaan
yakin akan kemampuan yang dimiliki,
sehingga dengan keyakinan tersebut seseorang dapat menghadapi
masalah yang dihadapi dalam proses pencapaian tujuan atau prestasi yang diinginkan. Sikap percaya diri siswa mempengaruhi pilihan aktivitas mereka, tujuan
mereka, dan usaha serta persitensi mereka dalam aktivitas-aktivitas kelas.
Dengan demikian, sikap percaya diri pun pada akhirnya mempengaruhi pembelajaran
dan prestasi mereka.
Sikap percaya diri berwujud dari konsep “Aku”. Konsep
“aku” meliputi segala kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-cita, baik yang
disadari ataupun tidak disadari individu tentang dirinya. Setiap siswa mempunyai
kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-cita akan dirinya, apakah sikap,
perasaan, dll-nya itu tepat atau tidak, realitis atau tidak. Seorang yang
memiliki kepercayaan lebih akan dirinya, akan mencita-citakan sesuatu yang jauh
di atas kemampuannya, sehingga kemungkinan mendapatkan kegagalan besar. Orang
yang mempunyai kepercayaan lebih juga akan menilai rendah kepada orang lain.
Sebaliknya, orang yang kurang percaya diri, akan banyak diliputi keraguan,
ketidakberanian untuk bertindak, serta rasa rendah diri.[2]
Percaya diri adalah sebuah sikap diri yang merasa pantas,
nyaman dengan diri sendiri dari penilaian orang lain, serta memiliki keyakinan
yang kuat. Maka sifat tidak percaya diri datang apabila pribadi tersebut tidak
merasa pantas, nayaman dan tenang dengan dirinya. Menurut Syaifullah, percaya diri merupakan sikap positif yang dimiliki
seorang individu yang membiasakan dan memupukkan dirinya untuk mengembangkan penilaian positid baik terhadap
diri sendiri maupun terhadap orang lain, lingkungan serta situasi yang
dihadapinya untuk meraih apa yang diinginkan. Pribadi seseorang yang memiliki
sikap percaya diri diantaranya memiliki ciri-ciri:
a. Percaya dengan kemampuan diri sendiri
b. Mengutamakan usaha sendiri tidak tergantung dengan orang lain
c. Tidak mudah mengalami rasa putus asa
Pribadi yang percaya diri akan selalu antusias dalam
melakukan suatu tindakan memiliki tekad, tekun dan pantang menyerah
d. Berani menyampaikan pendapat
Berpendapat merupakan suatu hak yang dimiliki oleh setiap
orang, tetapi ridak semua orang memiliki keberanian untuk menyampaikan
pendapat, rasa takut dan khawatir untuk berbicara merupakan salah satu
ciri-ciri sikap tidak percaya dengan kemampuannya. Seorang yang memiliki sikap
percaya diri diantaranya adalah berani untuk menyampaikan pendapat yang
dimilikinya didepan orang banyak.
e. Mudah berkomunikasi dan membantu orang lain
Manusia adalah makhluk sosial, akan selalu bersosialisasi
dan berinteraksi. Interaksi merupakan suatu hal yang tak dapat dipisahkan oleh
manusia, manusia dilahirkan dan hidup tidak dapat dipisahkan satu sama lain,
seseorang membutuhkan seseorang lainnya, karena tanpa adanya kerjasama dan
bantuan orang lain seorang individu tidak bisa menopang untuk memenuhi
kebutuhan.
f. Tanggungjawab dengan tugas-tugasnya
Pribadi yang percaya diri akan selalu memiliki
tanngungjawab pada dirinya sendiri yaitu selalu mengerjaka apa yang menjadi
tugas dalam menjalankan suatu tindakan, dikerjakan dengan tekun dan rajin.
g. Memiliki ciri-ciri untuk meraih prestasi
Sikap percaya diri hanya dimiliki oleh orang yang
bersemangat berjuang dan memiliki kemaun keras, berusaha dan merealisasikan
mimpi-mimpinya untuk menjadi kenyataan.
Rasa percaya diri akan menghasilkan berbagai perasaan
atau emosi dalam mengatisipasi suatu tindakan. Setiap tindakan yang dilakukan
oleh seseorang akan berbeda-beda tergantung usia seseorang, hal tersebut
dipengaruhi adanya perkembangan setiap individu. Dari pengertian rasa percaya
diri diatas maka yang menjadi indikator dalam intrumen percaya diri yaitu:
keyakinan pada kemampuan belajar, keyakinan pada keunggulan belajar, keyakinan
pada prestasi belajar, keyakinan pada suasana belajar, ketegasan dalam menyampaikan pendapat, ketegasan dalam
pengambilan keputusan, kesediaan menerima perubahan serta menanggung kerugian.
Jadi, rasa percaya diri dibangun oleh tiga aspek yaitu keyakinan, ketegasan dan
kesediaan dalam mengambil resiko.[3]
Individu dengan
rasa percaya diri yang lemah, cenderung mempersepsikan segala sesuatu dari sisi
negatif. Ia tidak menyadari bahwa dalam dirinyalah semua negativisme itu
berasal. Pola pikir individu yang kurang percaya diri, bercirikan antara lain:
·
Menekankan keharusan-keharusan pada diri sendiri. Ketika
gagal, individu tersebut merasa seluruh hidupnya dan masa depannya hancur.
·
Cara berpikir totalitas dan dualisme.
·
Pesimistik yang futuristik: satu saja kegagalan kecil,
individu tersebut sudah merasa tidak akan berhasil meraih cita-citanya di masa
depan.
·
Tidak kritis dan selektif terhadap self criticism.
·
Labeling: mudah menyalahkan diri sendiri dan memberikan
sebutan-sebutan negatif.
·
Sulit menerima pujian ataupun hal-hal positif dari orang
lain.
·
Suka mengecilkan arti keberhasilan diri sendiri.
Rasa percaya
diri merupakan satu diantara aspek-aspek kepribadian yang penting dalam
kehidupan. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa rasa percaya diri
sangat penting dalam kehidupan. Jika seseorang ingin memiliki prestasi yang
baik maka ia harus memiliki rasa percaya diri yang baik pula, karena dengan
percaya diri seseorang akan berjuang untuk mencapai prestasi yang diinginkan.
1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Rasa Percaya Diri
1) Faktor Internal
Merupakan faktor yang bersumber dari dirinya sendiri,
yaitu berupa pemahaman seseorang terhadap dirinya sendiri yang terdiri dari
bagaimana orang tersebut memandang diri dan membuat gambaran tentang dirinya
yaitu konsep diri.[4]
Adapun karakteristik individu yang memiliki konsep diri yang positif adalah :
(a) yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah, (b) merasa setara dengan
orang lain, tidak sombong, mencela atau meremehkan selalu, selalu menghargai
orang lain, (c) menerima pujian tanpa rasa malu, (d) mampu memperbaiki dan
mengubah aspek-aspek kepribadian yang tidak disenangi orang lain.[5]
2) Faktor Eksternal
Ø Diri fisik: yang berarti
persepsi seseorang terhadap keadaan dirinya secara fisik.
Dalam hal ini terlihat persepsi seseorang mengenai kesehatan
dirinya, penampilannya secara fisik dan keadaan tubuhnya.
Ø Diri etik moral: bagian ini merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya dilihat
dari standar pertimbangan nilai moral dan etika.
Ø Diri pribadi: merupakan perasaan atau persepsi seseorang tentang keadaan
pribadinya.
Ø Diri keluarga: menunjukkan perasaan dan harga diri seseorang dalam kedudukannya
sebagai anggota keluarga.
Ø Diri sosial: pada bagian ini merupakan penilaian individu terhadap interaksi
dirinya dengan orang lain maupun lingkungan sekitarnya.
Indikator
percaya diri adalah merupakan suatu hasil yang nampak pada diri seseorang.
Contohnya apabila seseorang berani melakukan suatu aktivitas dan kelihatannya
ia tidak ragu memilih dan membuat apa yang harus dibuatnya. Berikut beberapa
indikator kepercayaan diri:
a.
Tampil percaya diri
Bekerja sendiri tanpa supervisi, mengambil
keputusan tanpa perlu persetujuan orang lain.
b.
Bertindak indenpenden
Bertindak diluar otoritas formal agar
pekerjaan bisa terselesaikan dengan baik, namun hal ini dilakukan demi
kebaikan, bukan karena tidak mematuhi prosedur yang belaku.
c.
Menyatakan keyakinan atas kemampuan sendiri
Menggambarkan dirinya sendiri sebagai seorang
ahli, seseorang yang mampu mewujudkan sesuatu menjadi kenyataan, seorang
penggerak, atau seorang narasumber.
d.
Memilih tantangan atau konflik
Menyukai tugas-tugas yang menantang dan
mencari tanggung jawab baru. Bicara terus terang jika tidak sependapat dengan
orang lain yang lebih kuat, tetapi mengutarakannya dengan sopan. Menyampaikan
pendapat dengan jelas dan percaya diri walaupun dalam situasi konflik.
2. Kemampuan Berpikir Kritis
Berpikir adalah manipulasi atau mengelola dan
mentransformasi informasi dalam memori. Ini sering digunakan untuk membentuk
konsep, bernalar dan berpikir secara kritis, membuat keputusan, berpikir
kreatif, dan memecahkan masalah. Murid dapat berpikir tentang hal-hal konkret,
seperti liburan ke pantai atau apabila mereka sudah usai sekolah menengah,
mereke bisa berpikir tentang hal-hal yang abstrak, seperti makna kebebasan atau
identitas.[6] Ciri-ciri
yang terutama dari berpikir adalah adanya abstraksi. Abstraksi dalam hal ini
berarti: anggapan lepasnya kualitas atau relasi dari benda-benda, kejadian-kejadian
dan situasi-situasi yang mula-mula dihadapi sebagai kenyataan. Ada beberapa
macam cara berpikir:
a. Berpikir Induktif
Berpikir induktif ialah suatu proses dalam berpikir yang
berlangsung dari khusus menuju kepada yang umum. Orang mencari-cari ciri-ciri
atau sifat-sifat yang tertentu dari berbagai fenomena, kemudian menarik
kesimpulan-kesimpulan bahwa ciri-ciri/sifat-sfat itu terdapat pada semua jenis
fenomena tadi.
b. Berpikir Deduktif
Berpikir deduktif prosesnya berlangsung dari yang umum
menuju ke khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari suatu teori
ataupun prinsip ataupun kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah bersifat
umum.
c. Berpikir Analogis
Analogi berarti persamaan atau perbandingan. Berpikir
analogis ialah berpikir dengan jalam menyamakan atau memperbandingkan
fenomena-fenomena yang pernah dialami. Di dalam cara bepikir ini, orang
beranggapan bahwa kebenaran dari fenomena-fenomena yang pernah dialaminya
berlaku pula bagi fenomena yang dihadapi sekarang.[7]
Seseorang yang berpikir
secara kritis akan dapat menjawab permasalahan-permasalahan yang penting dengan
baik. Dia akan berpikir secara jelas dan tepat.
Selain itu, dapat menggunakan ide yang abstrak untuk bisa membuat model
penyelesaian masalah secara efektif.
Beberapa hal yang menjadi
ciri khas dari pemikir kritis itu sendiri adalah:
1)
Mampu membuat simpulan dan solusi yang akurat, jelas, dan
relevan terhadap kondisi yang ada.
2)
Berpikir terbuka dengan sistematis dan mempunyai asumsi,
implikasi, dan konsekuensi yang logis.
3)
Berkomunikasi secara efektif dalam menyelesaikan suatu
masalah yang kompleks
Berpikir kritis merupakan
cara untuk membuat pribadi yang terarah, disiplin, terkontrol, dan korektif
terhadap diri sendiri. Hal ini tentu saja membutuhkan kemampuan komunikasi
efektif dan metode penyelesaian masalah serta komitmen untuk mengubah paradigma
egosentris dan sosiosentris kita.
Saat kita mulai untuk
berpikir kritis, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan disini, yaitu
1) Mulailah dengan berpikir
apa dan kenapa, lalu carilah arah yang tepat untuk jawaban dari pertanyaan
tersebut.
2) Tujuan pertanyaan akan
apa dan kenapa
3) Informasi yang spesifik
untuk menjawab pertanyaan diatas.
4) Kriteria standar yang
ditetapkan untuk memenuhi jawaban atas pertanyaan.
5) Kejelasan dari solusi
permasalahan/pertanyaan.
6) Konsekuensi yang mungkin
terjadi dari pilihan yang kita inginkan.
7) Mengevaluasi kembali
hasil pemikiran kita untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Beberapa kriteria yang
dapat kita jadikan standar dalam proses berpikir kritis ini adalah kejelasan (clarity), tingkat akurasi (accuracy), tingkat kepresisian (precision) relevansi (relevance), logika berpikir yang
digunakan (logic), keluasan sudut
pandang (breadth), kedalaman berpikir
(depth), kejujuran (honesty), kelengkapan informasi (information) dan bagaimana implikasi
dari solusi yang kita kemukakan (implication).
Kriteria-kriteria di atas
tentunya harus menggunakan elemen-elemen penyusun kerangka berpikir suatu
gagasan atau ide. Sebuah gagasan/ide harus menjawab beberapa hal sebagai
berikut.
1)
Tujuan dari sebuah gagasan/ide
2)
Pertanyaan dari suatu masalah terhadap gagasan/ide
3)
Sudut pandang dari gagasan/ide
4)
Informasi yang muncul dari gagasan/ide
5)
Interpretasi dan kesimpulan yang mungkin muncul.
6)
Konsep pemikiran dari gagasan/ide tersebut
7)
Implikasi dan konsekuensi
8)
Asumsi yang digunakan dalam memunculkan gagasan/ide
tersebut
Dasar-dasar ini yang pada
peinsipnya perlu dikembangkan untuk melatih kemampuan berpikir kritis kita.
Jadi, berpikir kritis adalah bagaimana menyeimbangkan aspek-aspek pemikiran
yang ada di atas menjadi sesuatu yang sistemik dan mempunyai dasar atau nilai
ilmiah yang kuat. Selain itu, kita juga perlu memperhitungkan aspek alamiah
yang terdapat dalam diri manusia karena hasil pemikiran kita tidak lepas dari
hal-hal yang kita pikirkan.
Sebagaimana fitrahnya,
manusia adalah subjek dalam kehidupan ini. Artinya manusia akan cenderung
berpikir untuk dirinya sendiri atau disebut sebagai egosentris. Dalam proses
berpikir, egosentris menjadi hal utama yang harus kita hindari. Apalagi bila
kita berada dalam sebuah tim yang membutuhkan kerjasama yang baik. Egosentris
akan membuat pemikiran kita menjadi tertutup sehingga sulit mendapatkan
inovasi-inovasi baru yang dapat hadir. Pada akhirnya, sikap egosentris ini akan
membawa manusia ke dalam komunitas individualistis yang tidak peka terhadap
lingkungan sekitar. Bukan menjadi solusi, tetapi hanya menjadi penambah
masalah.
Semakin sering kita
berlatih berpikir kritis secara ilmiah, maka kita akan semakin berkembang
menjadi tidak hanya sebagai pemikir kritis yang ulung, namun juga sebagai
pemecah masalah yang ada di lingkungan.
Kemampuan berpikir kritis individu berbeda antara satu
dengan lainnya sehingga perlu dipupuk sejak dini. Berpikir terjadi dalam setiap
aktifitas mental manusia yang untuk berfungsi memformulasikan atau
menyelesaikan masalah, membuat keputusan dan mencari alasan. Pemikiran kritis
adalah pemikiran reflektif dan produktif, dan melibatkan evaluasi bukti. Banyak
soal “Reflect” yang muncul dalam buku
ini membutuhkan pemikiran kritis. Berpikir kritis adalah sebuah proses
sistematis yang memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengevaluasi keyakinan
dan pendapatnya sendiri. Dalam pemecahan masalah, kemampuan berpikir kritis
juga diperlukan karena dapat merumuskan, memformulasikan dan menyelesaikan
masalah. Seseorang yang berpikir kritis kritis memiliki karakter khusus yang
dapat diidentifikasi dengan melihat bagaimana seseorang menyikapi masalah.
Berikut ini beberapa cara yang dapat digunakan gutu untuk memasukkan pemikiran
kritis dalam proses pengajaran :
·
Jangan
hanya tanyakan tentang apa yang terjadi, tetapi tanyakan juga “bagaimana” dan
“mengapa”.
·
Kaji
dugaan “fakta” untuk mengetahui apakah ada bukti yang mendukungnya.
·
Berdebatlah
secara rasional, bukan emosional.
·
Akui
bahwa terkadang ada lebih dari satu jawaban atau penjelasan yang baik.
·
Bandingkan
berbagai jawaban untuk suatu pertanyaan dan nilailah mana yang benar-benar
jawaban terbaik.
·
Evaluasi
dan kalau mungkin tanyakan apa yang dikatakan orang lain bukan sekedar menetima
begitu saja jawaban sebagai kebenaran.
·
Ajukan
pertanyaan dan pikirkan di luar apa yang sudah kita tahu untuk menciptakan ide
baru dan informasi baru.[8]
Dalam berpikir kritis, siswa dituntut menggunakan
strategi kognitif tertentu yang tepat untuk menguji keandalan gagasan pemecahan
masalah dan mengatasi kesalahan atau kekurangan. Sebab, berpikir kritis
merupakan perwujudan perilaku berlajar terutama yang bertalian dengan pemecahan
masalah.[9]
3. Hubungan Berpikir Kritis dan Rasa Percaya Diri dalam Pembelajaran
Matematika
Pembelajaran matematika di sekolah tidak hanya bertujuan
agar siswa memahami materi matematika yang diajarkan. Tujuan-tujuan utama lain
misalnya, kemampuan penalaran matematika, komunikasi matematika, koneksi
matematika dan lain-lain. Dari salah tujuan utama tersebut berkaitan atau
berhubungan dengan berpikir kritis dan sikap percaya diri yaitu kemampuan
penalaran matematika. Dalam mempelajari matematika orang harus berpikir agar ia
mampu memahami konsep-konsep matematika yang dipelajari serta mampu menggunakan
konsep-konsep tersebut dengan tepat. Dalam hal ini, tahapan tersebut akan
menjadi sempurna jika seseorang tersebut memiliki rasa percaya diri yang
positif. Sehingga, hasil yang diinginkan menjadi memuaskan dan mendapat nilai
yang sempurna.
Berpikir kritis dalam matematika perlu diawali dengan
adanya harus mampu mengendalikan dirinya
sendiri agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan mengenai pokok masalah yang
sedang dievaluasi.
4. Relasi dan Fungsi
a. Relasi
Relasi
dari himpunan A ke himpunan B adalah aturan yang memasangan anggota himpunan A
ke himpunan B dengan aturan tertentu. Lambang dari relasi yaitu “®”.
Ada tiga cara menyatakan sebuah relasi adalah sebagai berikut :
1) Diagram
panah
Langkah-langkah
cara menyatakan relasi dengan diagram panah:
o
Membuat dua lingkaran atau ellips untuk
meletakkan anggota himpunan A dan himpunan B.
o
x Î A
diletakkan pada lingkaran A dan y Î B diletakkan
pada lingkaran B.
o
x dan y
dihubungkan dengan anak panah.
o
Arah anak panah menunjukkan arah relasi.
o
Anak panah tersebut mewakili aturan
relasi.
2) Himpunan
Pasangan Berurutan
Menyatakan
relasi dengan himpunan pasangan berurutan dapat dilakukan dengan langkah
sebagai berikut:
o
Kita daftarkan masing-masing anggota
himpunan A dan anggota himpunan B.
o
Kita pasangkan kedua anggota himpunan
dengan aturan relasi dalam bentuk (x, y) dengan x Î A
dan y Î B.
3) Diagram
Cartesius
o
Pada diagram cartesius diperlukan dua
salib sumbu yaitu: sumbu mendatar dan sumbu tegak yang berpotongan saling tegak
lurus.
o
x Î A
diletakkan pada sumbu mendatar.
o
yÎ B diletakkan
pada sumbu tegak.
o
Pemasangan x ® y
ditandai dengan sebuah noktah yang koordinatnya ditulis sebagai pasangan
berurutan (x , y).
b.
Fungsi
Fungsi
pemetaan dari himpunan A ke himpunan B adalah relasi yang memasangkan setiap
anggota himpunan A dengan tepat satu anggota himpunan B.
C. Kesimpulan dan Saran
1.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh sikap
percaya diri siswa terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa dalam
proses pembelajaran. Hal ini dapat terlihat dalam proses pemahaman konsep
materi serta saat siswa tersebut menyelesaikan sebuah persoalan secara langsung
dan secara individual.
Selain
itu, tidak hanya dalam hal itu melainkan bisa juga dalam hal siswa menyampaikan
pendapat siswa. Dalam artian berarti berhubungan dalam keaktifitan siswa dalam
proses pembelajaran.
2. Saran
a. Guru
pada kelas tersebut harus mampu meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam
menyelesaikan persoalan pokok bahasan relasi dan fungsi.
b. Guru
harus dapat memberikan penjelasan materi yang memacu akan kemampuan berpikir
kritis siswa dalam acuan sikap percaya diri siswa tersebut.
Daftar Pustaka
Purwanto,M.
Ngalim. 2008. Psikologi Pendidikan. Bandung:
PT Remaja
Rosdakarya.
Rosdakarya.
Risnawati. 2013.
Keterampilan Belajar Matematika. Yogyakarta : Aswaja
Presindo.
Presindo.
Santrock, Joh
W. 2008. Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta: Kencana.
Sujianto, Agus.
2009. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Bumi Aksara.
Sukmadinata,
Nana Syaodih. 2007. Landasan Psikologi
Proses Pendidikan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Syah, Muhibbin.
2008. Psikologi Pendidikan dengan
Pendekatan Baru. Bandung:
PT Remaja RosdaKarya.
PT Remaja RosdaKarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar